
Riding a horse is a thing rarely done by our society generally, if not for one moment or a show-some great performances. human relationships with horses are always in the identical with the "Cowboy", "Hero" or a "King" which is reflected in the figures of classic films. Quickly run and jump is the basic framework that shown by the horse.
In Indonesia in some areas, when the kingdom era, horses used by the farmers in addition to buffalo in general. Horses live quite close to the farmers. serve as a tool to pull a plow rice fields and also as a means of transportation / freight. Until now an increased need for horses in Indonesia was none other for sport. As with other nations.
Development of Equestrian Sports in Indonesia
History of the sport horseback riding in Indonesia noted that once the horse is used as a tool to hunt in the forests by the people of south western and eastern homeland. And in the 16th century on the island of Java, the horse is a symbol of greatness of the kingdoms that are driven to war. until the development shifted into a spectator sport.
We have to admit, sports Horseracing proved to be a part of history which was built by the Dutch. Where, horse racing is done on market days and the Dutch queen's birthday. In fact, many areas also conduct horse racing is made up of traditional cattle which are located in West Sumatra, North Sumatra, Central Java, East Java, North Sulawesi, South Selawesi and Nusa Tenggara. Then the horse gave birth to a local racehorse named Batak horse, horse Minahasa, Sumba horse, horse Priangan, horses and horse Mangatas Sandel. Sporting prowess began riding familiar when the Dutch soldiers began a routine conduct race hurdle jump (jumping), which at that time held in the cavalry Cimahi town which was formerly a part of the city of Bandung
Development of Equestrian Sport in the World
According to scientific discoveries, of yore, togetherness between man and horse has been known since ancient times during the period 5,000 years ago. However, horse meat is also a meal of early humans at the time. Nor was there who knew who the person who first tamed the horse ridden by a man so willing.
Horse riders were great riders headliner is derived from the Greek tribe (Xonophon) and Roman tribes. For them, riding a horse is as a race and sports. In military terms, the Greek and Roman soldiers used horses as transportation tool in the war. In fact, 400 BC Greek tribes had issued the basic principles of riding a horse that is still frequently used.
Entering the Renaissance, many who study the arts Duke riding in a large riding schools in Europe. Napoli, Italy is the first country to establish horseback-riding school which was founded in 1532 by Fredrico Gisone. Until the end of the 16th century there was a growing Equestrian Academy in Versailles France before disappearing in the suit by the French revolution.
Expert horsemanship, Pluvinel and La Guérinière are the ones who really make a major contribution to modern art Equestrian (dressage / riding matching) in the Cavalry School, located in Saumur France in the year 1768 which is the beginning of the school year. In the second part of the 19th century this is where people are more familiar with the term horse riding as a sport. The only old riding school which still stands to sekrang is "Spanish Riding School, which stood in the year 1572 in Vienna, Austria".
Labels
Blog Teman
Selasa, 25 Oktober 2011
Development of Equestrian Sports in Indonesia
Diposting oleh
Siswo
di
23.06
0
komentar
Rabu, 04 Mei 2011
CARA KERJA GOOGLE
Google sampai saat ini masih dianggap sebagai Search Engine nomer satu, dan juga terfavorit dibanding kebanyakan search engine yang lain. Selain memiliki tampilan situs yang sangat sederhana, Google juga menyediakan hasil pencarian yang akurat. Sistem pengindeksan-nya yang otomatis membuat Google nyaris tanpa kompromi dan adil, artinya tanpa campur tangan manusia, semua situs dan blog entah besar dan kecil, pemain baru atau lama mendapatkan kesempatan yang nyaris sama.

INTEGRITAS SEARCH ENGINE
Salah satu alasan kenapa search engine yang ada sebelum Google menurun popularitas dan kegunaannya adalah munculnya paid-listing. Di mana search engine yang 'lapar' akan bayaran/penghasilan menjual posisi dalam hasil pencarian kepada para pemasang iklan. Pelemahan terhadap obyektivitas tersebut meracuni hasil pencarian dan meremehkan prinsip popularitas yang dimiliki situs web. Perbedaan antara search engine, yang seharusnya menampilkan hasil yang anda cari, dengan saluran browser, yang membawa anda ke bisnis affiliasi, mengabur. Walaupun banyak search engine yang menolak menjual posisi dalam hasil pencarian mereka, keraguan dan ketidakpercayaan telanjur menyebar di hati para pengguna.
Integritas Google terlihat dari halaman situs mereka yang bersih dari segala macam tetek bengek, dan semata-mata menonjolkan satu hal yaitu kata "Search". Memang Google menerima iklan, tetapi iklan yang mereka terima dipisahkan dari hasil pencarian. Mungkin tidak semua orang setuju dengan cara Google merangking hasil pencarian, tetapi tidak ada seorang pun yang mengira bahwa rangking teratas di hasil pencarian Google bisa dibeli.
Nah, tetapi bagaimana sebenarnya cara kerja Google dan search engine secara umum ? Artikel ini bermaksud menjawab hal tersebut secara sederhana.
Semua search engine (mesin pencari) bekerja dengan cara dasar yang sama : mereka "merayapi" (crawl) halaman web dengan software robot otomatis disebut spider (laba-laba) atau crawler (perayap) yang menghasilkan/menciptakan indeks (daftar) isi web yang bisa dicari/ditemukan oleh para pengguna. Setiap search engine mengijinkan para penggunanya untuk mencari di dalam daftar (indeks) yang mesin pencari itu miliki, untuk sebuah keyword (kata kunci) atau sekumpulan keyword (kata kunci). Hasil pencarian ditampilkan dalam berbagai bentuk daftar, tetapi kebanyakan menampilkan sedikit informasi mengenai setiap web yang masuk dalam daftar dan link yang mengarah ke web tersebut.
Cara setiap search engine membuat daftar sangat unik, berkat pemrograman mesin spider yang berbeda satu sama lain. Unsur utama dalam pemrograman spider adalah pada algoritma mesin pencari tersebut, yang menentukan rangking dari setiap halaman web yang didaftar. Sistem rangking tersebut menentukan cara hasil pencarian ditampilkan.
Aset teknologi utama Google adalah pada sistem algoritma yang mereka miliki, formula sistem rangking rumit yang memberikan pada para pemakai, hasil pencarian yang bagus dan seringkali terkesan seolah Google mampu membaca pikiran dari setiap orang yang mencari lewat mesin pencari raksasa ini.
Hasil dari sistem algoritma dirangkum dalam sebuah statistik rangking tunggal yang disebut PageRank, Google sangat merahasiakan formula PageRank ini, tetapi perusahaan tersebut mempromosikan pentingnya PageRank, dan menawarkan pada para Webmaster petunjuk-petunjuk umum untuk meningkatkan PageRank. Google menunjukkan sistem penilaian rata-rata dari setiap situs (dalam skala 0-10) dalam toolbar Google. Walaupun formula tepat dirahasiakan, tetapi ramuan dasar PageRank ini dikenal publik
Diposting oleh
Siswo
di
22.40
0
komentar
Minggu, 01 Mei 2011
cuman sekedar iseng
kalo temen-temen udah bosen dengan t-shirt yang melulu dengan motif/grafis-grafis monoton seperti monster dengan warna-warna ngepop, mungkin tread yang satu ini cocok buat temen-temen dalam berpakaian.
Ini hanya mengulang kejayaan mainan fotokopian waktu masih SD dulu. caranya seperti ini:
Siapkan kaos warna cerah (putih, abu-abu, dll) fotokopian grafis, bensin, kapas, dan sendok.
Tempelkan sisi fotokopian pada kertas menempel pada kain, celupkan kapas pada bensin (pake premium aja, ga perlu pertamax) dan gosokkan pada kertas sambil ditekan sedikit demi sedikit.
Setelah dibasahi dengan bensin, gosok dengan sendok sedikit demi sedikit sampai rata.
Lepaskan kertas dari kaosnya pelan pelan
Dan nikmati hasilnya…bisa juga dikembangkan dengan menambahkan PILOX clear agar awet maupun ditambahi pewarna lainnya..
Selamat mencoba gan…
Share ke yang lain juga ya…
Diposting oleh
Siswo
di
22.41
0
komentar
Kamis, 30 Desember 2010
Alangkah tipisnya batas antara sedih dan bahagia....
Hidup ini slalu berpasang-pasangan. Ada siang ada malam, ada gelap dan ada terang. Ada suka dan tentu ada duka. Seperti yang diajarkan Eyang Sinto Gendeng padaku, he he he, bahwa semua yang berpasangan itu, adalah ciptaan dari Allah Yang Maha Esa. Makanya ada filosofi 212.
Aku tidak ingin membahas masalah Wiro Sableng itu.di sini. Aku pengen bicara masalah duka dan suka adalah satu bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan. Bahagia dan sedih sangat tipis batasnya. Kadang sekarang kita tertawa terbahak-bahak, tapi sedetik kemudian kita menangis tersedu-sedu. Itulah sebabnya Rosullullah SAW mengajarkan kita untuk tidak berlebihan dalam mengekspresikan baik itu suka maupun duka. Kita juga diajarkan untuk selalu ikhlas, karna Duka yang kita terima belum tentu itu buruk buat kita. Semua hal yang terjadi di dunia ini tidak ada satupun yang kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur dengan amat sangat sempurna. Jadi, semua yang terjadi, kita harus Ikhlas dan bisa bersyukur, karena bisa saja kesedihan, dalam waktu singkat berubah jadi kebahagiaan. Seperti ceritaku ini....
Aku lahir dari keluarga yang sederhana. Sederhana banget malah. Hidup jauh dari peradaban kota, di desa yang permai nan damai. Bapakku hanya seorang Rektor di Rumah sebgai Tani, (he he he) dan ibuku juga Dosen di dapur dan di sawah. Mereka berdua type orang-orang pengabdi sejati pada negara. Bahkan ketika aku SD, aku tahu bapakku dengan gaji yang cuma ratusan ribu, tapi tetep semangat dalam menjaga dan menafkani kami
Seperti anak desa lainya, mainanku waktu SD juga sederhana. Gak ada Play Station, gak ada Video Game, gak ada game online. Adanya cuma main di pinggir kali, di sawah-sawah nyari belut, engklek, egrang, layangan dll. (he he he kampungan banget ya??)
Dulu kegiatanku sepulang sekolah SD (waktu aku sekitar kelas 4) adalah “ngarit”. Atau bahasa Indonesianya itu nyari rumput buat makan ternak. Waktu itu aku punya 4 ekor kambing. 1 cowok dan 3 cewek. Yang cowok amat gagah. Kalo berbentuk manusia, bisa di ibaratkan dengan Tora Sudiro. Dengan jenggotnya yang keren, dan badanya yang tegap. Yang cewek juga cantik-cantik. Mieke Amalia aja lewat. Ha ha ha.
Kambing yang jantan, si Tora Sudiro itu punya napsu sex yang kelewat besar untuk ukuran seekor kambing. Awalnya kambing bapakku cuma dua. Si Tora ama ceweknya yang satu itu. Dari perkawinannya, lahirlah 2 anak cewek. Tapi setelah besar, si dua anak itu dikawin juga. Buset dah.!! Gak bisa aku bayangin. Untung di dunia kambing gak ada Komnas HAK (Hak Asasi Kambing).
Suatu hari, Kambing yang cewek hamil akibat perbuatan Ayahnya (si Tora itu) itu. Aku seneng banget demi melihat kambingku hamil. Setelah beberapa bulan, di pagi-pagi buta dari gua hantu (lho!!) kambing itu melahirkan juga. Dan cewek lagi anaknya. Aku seneng banget. Anaknya berwarna hitam pekat. Kayak aku. he he he, Cuma kalo aku itu hitam manies!!. Dan anak kambing itu aku beri nama Mei. Karna lahirnya bulan Mei.
Hari-hariku jadi lebih menyenangkan karna ada Mei. Kalo pulang sekolah, aku ajak Mei jalan-jalan ke kebun. Sambil aku nyari rumput buat kambing-kambing yang lain, Mei dengan setianya nungguin aku. Dia suka banget lari-lari berjingkrak-jingkrak kesana kemari.
Aku punya tetangga yang juga punya kambing kecil seusia Mei. Namanya Anto. (itu nama orangnya, bukan nama kambingnya). Dan nama kambingnya bernama Marcell. He he he, gak ding. Tapi anggep aja gitu. Anto juga suka banget ngajak Marcell jalan-jalan.
Suatu siang, sepulang sekolah, aku dan Anto ketemu di jalan dan menceritakan kehebatan kambing kita masing-masing. Saking serunya kita berdebat hingga kitapun hampir berantem. Tapi gak jadi berantem karna akhirnya kita buat kesepakatan. Besok siang, kita berdua akan menandingkan antara Mei dan Marcell. Lomba lari, itulah yang kita pilih. Sebagai Alat taruhan adalah kelereng. Anto punya Kelereng sebanyak 1 toples. Dan apabila Mei bisa ngalahin Marcell, maka Kelereng itu jadi milikku. Wow keren.tapi semprull……………
Sesampainya di rumah, tanpa ganti baju, aku ke kandang. Aku liat Mei lagi asyik becanda ama papanya. Tora Sudiro.ha ha ha. Kayaknya sih lagi maen tebak-tebakan. Begini tebakanya :” Daun apa yang bolong tengahnya??” tanya Mei pada bokapnya. Bokapnya diem mikir. Trus geleng-gelang kepala. Mei pun tersenyum sombong, dan memberi tahu jawabanya, ” DAUNat”, he he he. Karena merasa menang, Mei pun melemparkan tebakan lanjutan : ” Trus kalo Sofa yang bolong tengahnya apa yah?”. Ayahnya kembali geleng-geleng kepala gak ngerti. Si Mei semakin sombong lagi, dengan bangganya dia menjawab, ”SOFAsti Donat lah”. Ayahnya bengong. Tapi Mei malah melontarkan tebakan lagi, ” kalo Katak yang bolong tengahnya apa yah?”. Ayahnya yang emang bego, cuma bisa bengong dan geleng-geleng kepala. ”Jawabannya, KATAKan sekali lagi DONAT!!” Seakan tak mau kecolongan, Mei ngasih pertanyaan pamungkasnya, ”Orang apa yang bolong tengahnya?” Tanpa memberi kesempatan ayahnya berpikir, Mei langsung bilang, ”ORANG dibilang donat, juga!!”. Setelah itu dia ngeloyor pergi sambil tertawa penuh kemenangan. He he he.
Aku senyum-senyum aja melihat ayah dan anak saling becanda. Aku deketin Mei dan aku ajak dia ke sebelah rumah yang ada padang rumputnya. Di situ aku ajari dia berlari-lari untuk mempersiapkan lomba melawan si Marcell, kambing kecilnya si Anto besok. Jadi hari ini istilahnya Gradi Bersih nya. Hmmm aya-aya wae....
Sampe sore hari, ba’da Ashar aku baru pulang. Ibuku ngomel-ngomel gak karuan karna aku belum ganti baju sekolah udah mainan ama kambing. Tapi aku cuek aja, aku langsung ambil anduk dan gayung berisi sabun dan sikat gigi, aku berlari ke sungai Serayu untuk mandi. Kebetulan rumahku deket dengan sungai Serayu yang bening itu.
Malemnya aku gak bisa tidur, membayangkan moment besok. Kalo Mei menang, aku dapet kelereng. Jadi gak perlu ngumpulin duit lama-lama buat beli kelereng. Satu toples kelereng, bayangin itu kawan! Nggak sabar rasanya nunggu esok hari.
Di sekolah, konsentrasiku buyar. Pak Rahmadi yang sedang ngajar pelajaran Pendidikan Agama Islam, tidak aku gubris sama sekali. Pikiranku hanya tertuju pada kambing kecilku. Sampe akhirnya bel pulang sekolahpun berbunyi. Tanpa memperdulikan temen-temenku, aku langsung lari pulang. Hasrat menandingkan Mei amat sangat kuat di hatiku. Aku amat sangat yakin Mei akan memenangkan pertandingan ini, dan aku mendapatkan se toples kelereng. Aku yakin itu karena aku tahu Marcell itu kambing cemen. Gak begitu pintar berlari.
Sampe di rumah, ternyata bapak sudah ada di rumah. Dan sedang ada 2 orang tamu. Perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak. Benar saja, ketika aku pergi ke kandang, aku lihat 2 orang itu sedang mengeluarkan 5 ekor kambingku dari kandangnya. Aku tanyakan itu ke ibu. Dengan tenang ibu mengatakan kalo kambingnya mau di jual semuanya. Meledaklah tangisku. Aku tidak mau tahu alasannya yang jelas aku sedih banget. Kecewa sekali. Aku malu sama Anto. Aku tidak jadi punya setoples kelereng!!! Akupun masuk kamar dan mengunci pintu. Di dalem kamar aku nangis sejadi-jadinya. Aku sedih harus berpisah dengan Mei, tora sudiro, dan kambing lainya. Aku nangis sampai suaraku habis.
Aku tidak tahu sudah berapa jam aku mengurung diri di dalam kamar. Hatiku sedih banget menangisi kambingku yang dijual secara semena-mena sama bapakku. Kenapa bapak tidak konfirmasi dulu ke aku, selaku pemberi makan mereka?. Lama aku dikamar, aku merasa lapar juga. Tapi mau keluar males banget. Gengsi dong. Tapi tiba-tiba dengan lembut ibuku mengetuk-ngetuk pintu dan memanggil-manggil aku. Penuh rayuan beliau menyuruh aku membukakan pintu. Karena sayang ibuku, akhirnya aku buka pintunya. Ibuku langsung memelukku. Di bisikkannnya di telingaku, ” Liat tuh! di depan ada apa?”. Aku bingung. Nggak tahu maksud ibuku. Trus aku digandeng tangannya menuju teras rumah.
Aku kaget, di depan rumah telah berdiri dengan gagah sebuah sepeda BMX warna merah. Aku melihat ibu, dan ibu senyum dengan indahnya. Aku lihat bapak juga senyum-senyum. Akupun segera memeluk bapakku. Aku seneng banget. Gembira bukan kepalang. Aku segera mencoba sepeda baruku. Sambil tertawa riang. Dan Mei pun terlupa.
Alangkah tipisnya batas antara sedih dan bahagia....
Diposting oleh
Siswo
di
20.45
0
komentar
Label: kekecewaan dan bahagia
Rabu, 26 Agustus 2009
Si cantik Ubuntu dan si bersahaja Slackware
Ada joke yang mengatakan arti Ubuntu dalam bahasa Afrika adalah “Slackware is too hard for me”, temen2 Slacker juga ga pada mo kalah, ikut2an bikin juga arti dari kata Slackware dalam bahasa Afrika yaitu “Ubuntu is too easy for me”.
This time, ane ga coba membandingkan antara kedua OS tersebut…. hmm… ga membandingkan seh sebenernya, sekedar review berdasarkan apa yang ane rasakan selama pake kedua OS tersebut dan reviewnya bukan review serius, just for fun aja… Ubuntunya di wakili si Jaunty alias Ubuntu 9.04, dan Slackwarenya emang ga pure Slackware alias diwakili oleh Adiva atau biasa dikenal dengan istilah versi personalnya Zencafe, nah di Adiva yang sedikit banyak udah di make over aja masih ada beberapa hal yang kurang memadai buat di sandingkan dengan Ubuntu, tapi disisi lain Slackware/Adiva ini memiliki kelebihan yang ga di punya Ubuntu. Adiva, distro yang ampe sekarang ga pernah rilis2 ke publik tapi isonya udah beredar kesana kemarixexexexexexexe :d
BEAUTY BY DEFAULT
Klo bicara soal cantik bawaan, Ubuntu ibarat cewek kota dengan dandanan yang aduhai bikin siapapun ingin mengenalnya. Bahkan orang yang belum pernah mengenal keluarga Linux pun sedikit banyak akan tergiur pada saat melihat si cewek kota yang aduhai ini. Berbeda dengan Slackware, tipikal gadis desa yang sederhana, naturally klo kata orang punya inner beauty yang bikin orang kesemsem klo udah pernah mengenalnya. But buat orang yang belom kenal ni distro terutama yang biasa bergaul dengan cewek matre bernama Windos ane rasa kurang berminat untuk mengenal ni gadis desa.
GAUL ABIS
Soal pergaulan pastilah ada bedanya, sang cewek kota ini sangat terbuka orangnya, gampang bergaul dengan berbagai hardware bahkan klo punya modem 3G hampir bisa dipastikan bakal di kenal ma ni cewek sampe providernya segala. Sang gadis desa? bisa dikatakan dia sedikit ketinggalan soal ini. Di jamin klo bicara hardware seringkali kita harus berkotor2 tangan ngajarin si gadis biar bisa kenal itupun kadang tetep ga cocok ma dia. Ga tau hardwarenya yang ga mo kenal ni gadis desa, atau si gadis desanya agak2 kesulitan untuk belajar mengenal tu hardware.
MAKE OVER
Bicara dandan, si cewek kota relatif lebih asyik di ajak dandan, kita butuh aplikasi tinggal apt-get beres. Sedikit berbeda dengan sang gadis desa, kadangkala kita harus ajarin dengan cara configure; make; make install. Bukan apa2 mungkin karena biasa pake bedak Viva giliran di kasih bedak yang rada bagusan dikit bingung dia. Terutama sekarang mulai banyak software yang menawarkan kemudahan installasi buat sang cewek kota dan hanya menyediakan source code buat sang gadis desa.
KERAS KEPALA
Nah, disini kejelekan si cewek kota, biarpun enak di ajak dandan dan gaul. Kadang kadang suka keras kepala. Pengalaman ane justru si cewek kota agak sulit klo di ajak install aplikasi diluar standar yang dia pake. Mungkin karena biasa terima jadi, giliran disuruh kotor kotor tangan dia ogah. Pada saat ane butuh versi aplikasi diluar standar ada ada alasan yang di pake si cewek kota, GPG nya lah ga sesuai standar dia, dependensinya lah harus ikutan di upgrade, segudang deh alasannya. Jauh berbeda dengan sang gadis desa, sang gadis desa tipikal penurut, aplikasi yang masih bleeding edge pun di hajar, yang penting kita tau gimana cara ngajarinnya beres.
RESOURCE
Klo bicara boros ngganya, yang namanya cewek kota sama gadis desa ane rasa ga perlu terlalu di banding-bandingkan. Ubuntu butuh standar resource lebih tinggi, Slackware sang gadis desa dikasih pc jadulpun jadi, cingcay lah, nerimo wae klo kata orang
KESIMPULAN
Wew, udah sampe kesimpulan aja, ya intinya sebenernya ane ngeblog bukan buat nyarankan pake A atau pake B. Kek ane bilang tadi ni sekedar review santai. Yang jelas kontrasnya adalah bisa dikatakan Ubuntu bisa kita ibaratkan cewek kota yang cantik, aduhai dan gaul abis sedangkan Slackware bisa kita ibaratkan gadis desa nan bersahaja. Untuk yang blom pernah nyenggol yang namanya Linux mungkin sebaiknya coba mengenal sang cewek kota yang pada dasarnya udah dandan, gaul dan supel. Untuk yang suka poles poles yg suka ngoprek klo bisa hindari Ubuntu, karena akan sedikit bikin mumet soalnya naturenya memang buat orang yang kenal Linux sekedarnya, ga bisa di ajak ekstrim. So, it’s your choice mau milih yang mana….
Diposting oleh
Siswo
di
19.25
0
komentar
Label: jiwa
Arti Tawa Ikhlas

Sebagian orang mungkin berkata, tawa adalah luapan emosi sesaat karena lucu.
Pernahkah seseorang menghampiri anda dan melakukan lelucon yang tidak lucu sedangkan
anda membalasnya dengan tatapan kosong?
Dan itu sama sekali tidak membuat anda merasa bersalah.
Namun, tahukah arti dibalik semua lelucon orang2 seperti itu?
Mereka berusaha membuat lelucon agar kita tertawa, agar kita lupa pada masalah2 berat
yang kita hadapi sahari2, agar kita lupa sejenak pada perasaan sedih dan amarah
kita...
Namun apa yang kita balas, tawa secukupnya, tawa seadanya...
Pernahkah kita menghargai usaha mereka dengan tawa ikhlas walaupun lelucon mereka
tidaklah lucu?
Itu jarang kita lakukan, bahkan dengan tatapan kosong, kita mencemooh mereka dengan
kata "garing", cukup mengecewakan untuk orang2 seperti kita yang pernah melakukan hal
demikian.
Yang kita ingat dan kita pikirkan hanyalah perasaan2 negatif kita, perasaan2 seperti
marah, sedih dan masalah2 berat kita.
Mungkin kita akan dianggap gila jika tertawa tanpa alasan yang jelas setiap hari, dan
menganggap air mata dan amarah adalah hal yang wajar kita lampiaskan setiap hari...
Tidaklah mudah mendapatkan teman yang selalu ingin membuat kita tertawa dengan
leluconnya dan yang selalu ingin melihat kita bahagia, jadi, hargailah teman-teman
penuh tawa dan lelucon yang kamu miliki saat ini, karena jika kamu kehilangannya,
ketika kamu menangis, tiada orang kan mampu menghentikan air matamu, dan ketika kamu marah,
tiada orang kan mampu meredupkan amarahmu...
Diposting oleh
Siswo
di
19.08
0
komentar
Label: Java
Ingatkan aku untuk selalu berusaha bersyukur di setiap keadaan
Ingatkan aku untuk selalu berusaha bersyukur di setiap keadaan…. Karena didalam sepahit apapun keadaan, pasti masih ada celah disana untuk ditemukan sebuah alasan untuk bersyukur.
Suatu saat ketika sedang membutuhkan banyak materi untuk sebuah keperluan dan ternyata tak kutemukan selembarpun sesuatu yang bernama rupiah terselip di sakuku, dompet, dan rekeningpun telah lama hanya berisi sederetan angka…. Tanpa isi…. Duh Gusti…. Sambil gigit jari aku berfikir kemungkinan jalan apa yang dapat aku pilih untuk menyelesaikan masalah klasik ini……
Namun bukankah aku masih dikaruniai teman (alhamdulillah, satu celah)? Yah akhirnya kupinjam juga sejumlah uang itu kepada salah satu teman baik, dan keperluan mendesak itupun terselesaikan….
Bukankah KEPERCAYAAN dari teman-temanku yang baik hati untuk meminjamiku sejumlah uang juga adalah sebuah karunia? Sebuah ni’mat dariNYA yang sangat pantas untuk aku syukuri? Alhamdulillah… wasyukrulillah…. Kutemukan satu celah untuk bersyukur meski dalam keadaan pahit
Kenapa tidak mencari “celah” itu diantara serpihan hati yang patah? Diantara bongkahan2 kegagalan, diantara butiran2 kekecewaan, diantara himpitan kesulitan hidup….. dan segudang keadaan pahit yang mungkin kita hadapi di tengah samudra kehidupan ini. Bukankah keadaan2 itu yang seringkali berusaha menggiringku menuju ke arah lubang hitam Kufur Ni’mat? Na’udzubillah…… Alloh… ingatkan hambamu ini untuk selalu bersyukur disetiap keadaan….. suka maupun duka…
Diposting oleh
Siswo
di
18.56
0
komentar
Label: jiwa
